Day 1: London, England
Seri 10 Hari di Inggris Raya
(Bagian 4) Day 1: London, England
Bagi saya, tidak akan pernah cukup waktu untuk mengelilingi London. Pemandangannya nggak membosankan dan nggak habis-habis, karena sambil Anda mengelilingi jalan-jalan di London, Anda akan menemukan banyaknya orang dengan dandanan lucu, unik, dan elegan, khas Eropa. Makanya, kuatkan hati, karena, salah-salah, Anda malah end up cari jodoh bukan berwisata. Hihi. Seperti teman saya yang lebih memilih duduk seharian di kedai kopi ”mengamati” laki-laki cucok daripada keliling kota melihat landmark. Hati-hati, ya, jangan seperti itu.
Untuk saya, sejak awal saya memang sudah menanamkan tekad bulat seperti bola ping pong (nyanyi lagu anak-anak mode: On), bahwa liburan ini adalah liburan ambisius. Saya berpikir harus pergi ke banyak tempat meskipun hanya punya waktu 10 hari saja.
Hari pertama, selagi masih membara semembara Brama Kumbara (hihi), saya berjalan kaki menyusuri kota London. Dari Utara ke Selatan, dari Timur ke Barat. Yep, sightseeing tanpa mampir-mampir bagus untuk mengawali perjalanan wisata Anda. Paling tidak, Anda jadi tahu keadaan jalanan kota-kota itu. Dan selagi melewati tempat-tempat wisata, Anda bisa sambil menentukan, tempat mana yang ingin secara khusus Anda amati.
Sebagai gadis yang besar di era Julia Roberts dan Hugh Grant, Notting Hill adalah salah satu drama idaman saya. Karena itu, tujuan pertama di hari pertama adalah: Notting Hill, dengan pasar pinggir jalan Portobello-nya, yang kurang lebih seperti pasar Mayestik di Jakarta, tapi dengan barang-barang dan makanan-makanan khas Eropa tentunya.
Dari pasar authentic itu, saya beranjak ke pusat pertokoan modern Oxford Street, yang dipenuhi toko-toko nakal yang bisa membuat iman Anda goyah dengan sejuta sale. Mulai dari Primark yang saya bilang tadi, brand khas Inggris Topshop, Uniqlo, sampai department store Debenhams. Untung tekad hati saya hanya untuk foto-foto dan berjalan menelusuri kota London. Sukses! Saya tidak tergoda.
Kemudian, saya berjalan ke arah Covent Garden, daerah yang terkenal dengan keberadaan Royal Opera House dan wilayah Seven Dials, tempat unik dimana tujuh jalanan bertemu jadi satu.
Dari sana, tinggal berjalan sedikit ke Chinatown-nya London dan daerah pertokoan Piccadilly Circus. Beberapa blok dari Piccadilly Circus adalah salah satu daerah wisata paling populer di London: Trafalgar Square, yang merupakan salah satu alun-alun paling terkenal di dunia. Di sana, ada Galeri Nasional London, museum seni gratis yang bisa dimampiri sejenak.
Setibanya di Trafalgar Square, matahari sudah mulai turun, jadi, bergegaslah saya ke istana Queen Elizabeth, Buckingham Palace, berjalan cepat ala SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) masa SD dulu, melewati tempat-tempat yang wajib dikunjungi selagi di London (sambil tetap berfotoria tentunya): Tempat kerja dan kediaman Perdana Menteri Inggris di Downing Street, gedung DPR Houses of Parliament, the famous Big Ben, roda observasi London Eye yang membuat kita bisa melihat seisi kota London di puncaknya, hingga Westminster Abbey, karena banyak orang-orang besar dimakamkan di sana, mulai dari ratu Inggris hingga ilmuwan-ilmuwan terkemuka seperti Charles Darwin, Sir Isaac Newton, name it! Semua nama besar Inggris dimakamkan di sana.
Eh, on the way, kebetulan upacara pergantian jam tugas pasukan jaga istana sedang berlangsung. Seru juga ternyata menyaksikan upacara singkat lima menit ini. Apalagi, sesudahnya, kita bisa foto bareng sama si penjaga istana, meskipun dianya sih teuteup terdiam tanpa ekspresi meskipun sudah kita ajak bercanda selucu apapun.
Malamnya, tidak lupa saya mencoba jajanan khas Inggris: Fish and Chips. Setelah itu, waktunya istirahat dan bersiap untuk perjalanan hari kedua.
Esutoru
Apartemen Pentagon City, Arlington, Virginia
Jumat, 12 Maret 2010
Hitung mundur: 17 hari lagi dan 16 tulisan tersisa!
[...] Nah, begitu visa, tabungan, dan rencana perjalanan sudah di tangan, mari kita berkeliling London, Edinburgh, Manchester, dan Liverpool! [...]